BU KAWI DAN PUTRINYA SUMIRAT MAYASARI


Hari ini Ibu Kawitem dapat undangan pertemuan wali ke balai perlindungan dan rehabilitasi sosial wanita di Sidoarum, Godean, Sleman. Ibu Kawitem adalah salah satu Ibu yang membantu kami, memasak, bersih-bersih-bersih, dll. Putri keduanya, Sumirat Mayarista (Maya) lulus MAK tahun ini kemudian melanjutkan kursus menjahit di BPRSW. BPRSW sudah menjadi mitra Panti Asuhan Al-Dzikro, bagi anak panti belajar berbagai keterampilan, baik yang ingin belajar keterampilan menjahit, tata rias, atau olahan pangan (tata boga).

Berhubung saya libur, saya mengantar Ibu Kawi memenuhi undangan BRSW sekaligus menengok putrinya. Sepertinya Ibu rindu berat untuk bertemu Maya. Padahal cukup sering berkomunikasi via telepon. Ah, mungkin suara hanya menumpuk kerinduan, hehe. Obat rindu ya bertemu.

Kami berangkat kurang lebih pukul 08.15 wib. Setelah tiba disana, kami mengikuti kegiatan Temu orang tua dan peksos di aula BRSW. Dalam pertemuan wali tersebut, ada beberapa hal yang saya catat dari ketiga narasumber yaitu Ibu Pangesti Suprapti, Bapak Tulus, dan Bapak Fauzi.

Pertama, setiap anak itu memliki keunikan, tidak aemua yang ada pada diri orang tua ada pada anak. Jadi jangan harap anak harus sama seperti orang tua. Sebagai orang tua, perlu membimbing dan mengarahkan potensi yang dimiliki anak.

Kedua, setiap pribadi bertugas menjaga diri sendiri dan keluarganya. Orang tua memiliki tugas empat hal, yaitu: pendidikan dalam hal keagamaan dan pembentukkan akhlak: pengajaran dalam hal fisik, intelektual, ketangkasan dan kecermatan; pembiayaan; serta pengentasan.

Ketiga kalau anak di didik dengan keras, anak pun akan memiliki sifat keras. Poin ketiga tersebut mengingatkan saya pada quotes Dorothy Law Nolte: children learn what they what they live.

Jika anak biasa hidup dicacat dan dicela,
kelak ia akan terbiasa menyalahkan orang lain.
Jika anak terbiasa hidup dalam permusuhan,
kelak ia akan terbiasa menentang dan melawan
Jika anak biasa hidup dicekam ketakutan,
kelak ia akan terbiasa merasa resah dan cemas.
Jika anak biasa hidup dikasihani,
kelak ia akan terbiasa meratapi nasibnya sendiri.

Jika anak biasa hidup diolok-olok,
kelak ia akan terbiasa menjadi pemalu.
Jika anak biasa hidup dikelilingi perasaan iri,
kelak ia akan terbiasa merasa bersalah.

Jika anak biasa hidup serba dimengerti dan dipahami,
kelak ia akan terbiasa menjadi penyabar.
Jika anak biasa hidup diberi semangat dan dorongan,
kelak ia akan terbiasa percaya diri.

Jika anak biasa hidup banyak dipuji,
kelak ia akan terbiasa menghargai.
Jika anak biasa hidup tanpa banyak dipersalahkan,
kelak ia akan terbiasa senang menjadi dirinya sendiri.

Jika anak biasa hidup mendapatkan pengakuan dari kiri kanan,
kelak ia akan terbiasa menetapkan sasaran langkahnya.
Jika anak biasa hidup jujur,
kelak ia akan terbiasa memilih kebenaran.

Jika anak biasa hidup diperlakukan adil,
kelak ia akan terbiasa dengan keadilan.
Jika anak biasa hidup mengenyam rasa aman,
kelak ia akan terbiasa percaya diri dan mempercayai orang-orang di sekitarnya.
Jika anak biasa hidup di tengah keramahtamahan,
kelak ia akan terbiasa berpendirian : “Sungguh indah dunia ini !”

Selepas pertemuan selesai, kami berkesempatan untuk melihat kegiatan anak di ruang kursus dan berkeliling melihat lingkungan asrama. Ibu Kawi terlihat senang sekali putrinya sudah bisa menjahit dan kabarnya sebentar lagi sudah di perbolehkan praktik kerja lapangan (PKL). Penasaran dengan kolam yang diceritakan oleh salah peksos, kami bertiga jalan-jalan ke belakang asrama melihatnya.

Well, jam 1 an, saya dan bu kawi pamit pulang. Ibu Kawi berpesan pada putrinya dengan dalam bahasa jawa aksen banyumasan, “Sing sregep yo May, ngibadahe aja lali, sing sabar.” Maya mengangguk, saya terdiam.

Rindu itu hebat, ketika keping-kepingnya bertemu, bukan ungkapan rindu yang terlontar.
Lebih dari itu, doa-doa terbaiklah yang terucap.
Rindu itu berat, ketika keping-kepingnya beradu, pertemuan ternyata bukan obatnya.

Untungnya saya bawa kamera!
Cekrek!
Alhasil saya berhasil mengambil beberapa gambar momen menyatukan dua kerinduan antar ibu dan anak; Ibu Kawi dan putrinya Sumirat Mayarista.
Sukses May!

#Maulida Fitriyani


Print BeritaPrint PDFPDF

Berita Lainnya



Tinggalkan Komentar


Nama *
Email * Tidak akan diterbitkan
Url  masukkan tanpa Http:// contoh :www.m-edukasi.web.id
Komentar *
security image
 Masukkan kode diatas
 

Ada 1 komentar untuk berita ini

  • nnn
    2017-01-04

    namanya sumirat mayarista